Senin, 18 April 2016

RENCANA STUDI


            Saya percaya bahwa dalam mengentas kemiskinan melalui pendidikan adalah cara yang ampuh. Semangat saya untuk tetap menuntut ilmu masih berapi-api tiada henti. Selepas dari Universitas Negeri Malang (UM) dengan penghargaan mahasiswa terbaik II tingkat jurusan geografi, saya berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang S2. Universitas Gadja Mada (UGM) merupakan kampus pilihan saya selanjutnya dengan mengambil jurusan yang sama, Geografi (sains). Rencana perkuliahan yang saya ambil pada bulan januari 2016. Total jumlah sks yang harus ditempuh di program magister geografi (sains) yakni 48 sks. Rata-rata sks per-semester 18-20 sks. Saya merencanakan setiap semester mengambil 20 sks, sehingga pada semester 3 saya hanya mengambil program thesis (8 sks). Target saya segera menyelesaikan program magister di Universitas Gajah Mada 1, 5 tahun dan maksimal 2 tahun.
Saya mengambil kosentrasi human geography. Huntington (1956) mendefinisikan human geography mempelajari hubungan antara geografi lingkungan dengan aktifitas dan kualitas manusia. Manusia-lingkungan mempunyai hubungan yang dinamis. Hubungan manusia-lingkungan merupakan fokus dari human geography. Terdapat dua pendekatan dalam human geography. Pertama, pendekatan determinism yang mempunyai sudut pandang bahwa lingkungan mengendalikan atau mempengaruhi aktivitas manusia. Hal ini manusia hanya bersifat pasif. Kedua, pendekatan possibilism menyatakan bahwa manusia mengendalikan atau memengaruhi lingkungan. Berdasarkan definisi di atas, saya ingin mendalami kemampuan manusia dalam mencegah, menghadapi, serta mengelola lingkungan dari ancaman bencana. Dengan mendalami aktifitas manusia dalam menghadapi bencana, saya berharap dapat menemukan bentuk-bentuk adaptasi, pola perilaku, strategi yang tepat dalam menghadapi bencana, dan lain sebagainya. Selanjutnya, dengan mendalami kemampuan manusia dalam menghadapi bencana, saya berharap mampu menentukan strategi yang tepat dalam mengurangi resiko dan dampak terjadinya bencana.
Negara Indonesia yang sangat rawan dari ancaman bencana, baik bencana alam (banjir, tanah longsor, kekeringan, angin badai, gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami), nonalam (gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit), dan sosial (konflik antar suku dan terorisme) harus siap dalam menghadapi resiko terjadinya bencana. Salah satu contoh bencana alam yang terjadi yakni letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah yang menyebabkan 196 korban meninggal akibat luka bakar, 151 meninggal akibat luka nonbakar, 258 luka-luka, serta 400 ribuan penduduk mengungsi (BNPB, 2012). Kebanyakan korban jiwa yang menimpa masyarakat yaitu anak-anak dan perempuan. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan, ketidaksiapan, dan akses terhadap usaha-usaha pengurangan risiko bencana. Seperti yang diungkapkan oleh Sumarsono (2012) yakni sekitar 75 persen korban tsunami di Aceh adalah perempuan dan anak-anak. Dan ancaman yang terbaru yakni gerakan terorisme (ISIS) yang bisa menghancurkan kedaulatan Negara Indonesia.
Kurangnya pengetahuan dan ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi bencana mengakibatkan banyak korban jiwa dan kerugian harta benda. Peristiwa ini dapat menjadi pembelajaran masyarakat untuk mencegah dan mengurangi resiko bencana.  Perubahan pola pikir masyarakat akan pentingnya pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana menjadi kebutuhan utama untuk mencegah timbulnya korban jiwa dan kerugian secara material. Berdasarkan kondisi di atas, rencana tema penelitian saya nanti seputar pengembangan pendidikan kebencanaan di daerah Lamongan. Pendidikan kebencanaan (disaster education) merupakan salah satu strategi dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat sebagai upaya mitigasi bencana. Peran pendidikan sangat efektif dalam membangun perilaku masyarakat untuk mengelola dan memperkecil akibat-akibat yang ditimbulkan bencana. Masyarakat diposisikan sebagai subjek bukan lagi objek dalam menghadapi bencana, sehingga diharapkan terciptanya masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Rencana penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Lamongan. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan pada intensitas bencana yang terjadi di Kabupaten Lamongan cukup tinggi setiap tahunnya. Bencana yang terjadi seperti halnya banjir, terorisme, kekeringan, konflik sosial serta bencana lainnya. Pengembangan pendidikan kebencanaan di Lamongan diharapkan masyarakat tangguh dalam menghadapi bencana serta tidak menjadi pelaku penyebab bencana. Tujuan dan harapan dari pengembangan pendidikan kebencanaan untuk mengurangi resiko dampak bencana.

Selama menempuh program magister, saya akan mengikuti beberapa kegiatan dan komunitas khususnya yang menunjang akademik atau kecerdasan sosial seperti penelitian, kepenulisan buku, seminar, diskusi ilmiah serta mengembangkan komunitas “Disaster Education dan Gerakan Perpustakaan Anak Nusantara”. Setelah lulus program magister, saya ingin mengabdikan diri sebagai tenaga pendidik di lingkungan perguruan tinggi agar ilmu yang saya dapatkan semakin bermanfaat. Hal ini sesuai dengan cita-cita saya menjadi dosen. Pengabdian sebagai dosen akan semakin menunjang saya dalam berperan aktif di dunia pendidikan. Saya akan berperan aktif di bidang research dan mengembangkan hasil research yang nantinya mampu memberikan kontribusi dan manfaat terhadap masyarakat. 

KONTRIBUSI BAGI INDONESIA



         Nama saya Imam Arifa’illah Syaiful Huda lulusan dari Universitas Negeri Malang tahun 2014/2015 dengan Indeks Prestasi Kumulatif  mencapai 3.58 (cumlaude) dan dibantu dengan beasiswa Bidikmisi. Saya bersyukur mampu menyelesaikan strata satu selama 3,5 tahun. Pencapaian ini tidak lepas dari peran kedua orang tua saya yaitu Bapak Abdul Mukid dan Ibu Kemiseh. Saya bersyukur karena dapat kuliah tanpa biaya sepeserpun. Pencapaian ini tentunya tidaklah mudah, banyak menuai cobaan dan perjuangan. Untuk mewujudkan keinginan tersebut, berbagai perlombaan dan organisasi di sekolah saya ikuti. Hingga akhirnya, saya diterima menjadi mahasiswa Bidikmisi dengan jurusan pendidikan geografi di Universitas Negeri Malang.
           Beri aku seribu orang tua, maka akan aku cabut Semeru dari akarnya, beri aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan aku goncangkan dunia. Itulah ungkapan indah dari presiden pertama kita Bapak Soekarno. Kalimat tersebut mengandung arti bahwa peran pemuda sangat penting dan berpengaruh dalam kemajuan bangsa. Idealnya semua orang harus memberikan segala kemampuan, bakat, motivasi, kualitas, pelayanan, loyalitas, dedikasi, dan tekad untuk berperan aktif dalam membangun bangsa dan Negara Indonesia agar semakin maju dan sejahtera. Kontribusi yang telah saya berikan di antaranya mengabdikan diri sebagai pengurus organisasi seperti OSIS, Himpunan Siswa Unggulan, Himpunan Mahasiswa Jurusan Geografi, Pengurus Rumah Tangga Asrama UM, serta Ikatan Alumni Pondok Pesantren Tanwirul Qulub dan Matholi’ul Anwar (IKASAMANTA).
         Masalah kemiskinan agaknya masih menjadi polemik yang cukup serius. Berbagai usaha yang sudah dilakukan oleh pemerintah, seperti mengadakan beasiswa Bidikmisi dan pengembangan UKM di setiap masyarakat. Melihat hal tersebut, mendorong saya untuk menerapkan proposal usaha yang perna saya buat. Penerapan usaha bank kambing menjadi pilihan saya untuk membantu masyarakat miskin. Usaha Bank Kambing (UBK) merupakan usaha berbasis tabungan yang dijalankan dengan prinsip bagi hasil, terdiri dari 3 pilar penting, yaitu; nasabah, pemelihara, dan owner . Setelah lulus S1 Pendidikan geografi, saya tetap menjalankan usaha konveksi yang pernah saya mulai ketika semester 6 hingga sekarang. Kegiatan seperti ini saya lakukan untuk memenuhi kebutuhan dan berbagi kepada sesama. Saya mencoba untuk menjadi pemuda yang selalu mandiri, percaya diri, dan tumbuh kembang serta berperan aktif untuk kemajuan bangsa. Saya berharap kedepannya pengalaman ini mampu menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya.
            Kegiatan lain yang saya lakukan sekarang yakni merintis dan mengembangkan komunitas “Disaster Education & Gerakan Perpustkakaan Anak Nusantara”. Konsep Disaster Education bergerak di bidang pendidikan kebencanaan. Pendidikan kebencanaan diutamakan untuk anak-anak dan perempuan yang berada di desa atau daerah pedalaman. Sedangkan gerakan perpustakaan anak nusantara bergerak pada penggalangan atau pengumpulan buku-buku untuk anak-anak daerah pedalaman, kurang mampu, dan yang membutuhkan. Rendahnya ketersediaan buku di daerah pedalaman dan desa-desa tertentu menjadi latar belakang terbentuknya komunitas ini. Buku-buku yang sudah terkumpul akan disumbangkan ke daerah-daerah yang membutuhkan dan bekerjasama dengan lembaga pendidikan yang ada di daerah tersebut, seperti Taman Pendidikan Al Qur’an. Kerjasama ini dijalin agar buku yang disumbangkan tepat sasaran dan dimanfaatkan untuk belajar.
          Saya bersyukur respon positif dan dukungan dari berbagai pihak telah mengalir di gerakan ini. Langkah awal dari komunitas ini yakni penggalangan buku untuk mendirikan perpustakaan anak nusantara. Periode pertama komunitas ini memberikan sumbangan kurang lebih 665 buku di Desa Pakiskembar Kecamatan Pakis Kabupaten Malang. Serta memberi pendidikan kebencanaan kepada anak-anak sekolah dasar. Tempat ini telah menjadi perpustakaan anak nusantara yang pertama. Kedepannya saya berharap komunitas ini mampu memunculkan beberapa perpustakaan di berbagai daerah sebagai sumber belajar.
            Di masa depan, saya yakin bangsa Indonesia semakin maju, sejahtera, dan berdikari diberbagai sektor, terutama disektor pendidikan. Sektor pendidikan merupakan kunci utama untuk meningkatkan sumber daya manusia agar semakin berkualitas. Dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia, maka dapat dipastikan sektor-sektor yang lainnya akan mengalami pertumbuhan dengan baik. Oleh karena itu, peran aktif saya yaitu 1) sebagai seorang tenaga pendidik dengan cara mendidik generasi penerus bangsa menjadi pribadi yang mempunyai jiwa kepemimpinan, mandiri, dan jiwa sosial yang tinggi. 2) Mengamalkan ilmu pengetahuan khususnya di bidang geografi yang profisional, berkualitas, dan unggul yang relevan dengan kebutuhan pembangunan dan mampu melakukan pembaharuan.  3) merangkul pihak-pihak penting seperti guru, orang tua, dan tokoh masyarakat untuk mengembangkan komunitas Disaster Education & Gerakan Perpustkakaan Anak Nusantara. Peran aktif ini menjadi bekal untuk menjadi insan yang selalu bermanfaat bagi sesama manusia.


SUKSES TERBESAR DALAM HIDUPKU

Sukses memiliki arti yang relatif bagi setiap orang. Berbeda orang, berbeda penafsiran. Ada yang mengartikan sukses adalah sebuah keberhasilan secara material, bekerja di perusahaan terkenal, menduduki jabatan yang diinginkan, mencapai apa yang dicita-citakan, dan lain sebagainya. Setiap insan berhak mengartikan sukses sesuai dengan paradigmanya masing-masing, karena setiap insan mempunyai tujuan yang berlainan. Secara pribadi, sukses menurut saya adalah bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama, membagi apa yang saya punya, berkontribusi pada bangsa; baik melalui pemikiran, tindakan, dan karya nyata.  
Nabi Muhammad SAW bersabda:”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”. Tidak menumpuk harta jika diberi kekayaan, tidak kikir ilmu jika diberi pengetahuan, dan lain sebagainya. Berbagi, kiranya lebih baik daripada menikmati sendiri. Bisa untuk keluarga, saudara, tetangga, fakir miskin, dan khususnya bagi mereka yang membutuhkan. Pada akhirnya, semua hal tersebut adalah bekal untuk menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi. ”Berusaha memanfaatkan segala potensi dalam diri untuk kepentingan bersama”. Sabda Rasulullah SAW tersebut, kiranya yang menjadi dasar saya dalam memahami  arti sebuah kesuksesan.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT patut saya lakukan. Atas ridhaNya dan dukungan serta doa dari kedua orangtua, selepas lulus MA. Matholi’ul Anwar Karanggeneng Lamongan, saya berhasil mewujudkan mimpi saya kuliah di Perguruan Tinggi Negeri Universitas Negeri Malang (UM) melalui program Beasiswa BIDIKMISI yang diselenggarakan oleh Kemendikbud. Kesempatan mengembangkan potensi diri terbuka lebar, tentu saya tidak menyia-nyiakan hal tersebut. Semasa kuliah, saya mencoba keluar dari zona nyaman agar memperoleh banyak pengalaman. Beberapa organisasi pernah saya ikuti seperti: Himpunan Mahasiswa Jurusan Geografi sebagai anggota, Pengurus Rumah Tangga Asrama UM sebagai ketua 1 Asrama Putra, dan Ikatan Alumni Pondok Pesantren Tanwirul Qulub & Matholi’ul Anwar di Malang sebagai Ketua Umum. Berkat mengikuti sejumlah organisasi tersebut, saya diberi kesempatan memberi materi kepemimpinan dan motivasi kepada anggota organisasi yang baru. Melalui organisasi, saya belajar mengabdikan diri dan mengembangkan potensi agar lebih baik.
Terlahir sebagai anak yang kurang mampu secara material, tentu tidak membuat saya putus asa. Justru kondisi ini yang membuat semakin semangat untuk menggapai kesuksesan. Saya mencoba belajar berwirausaha, meskipun hanya berjualan roti di lingkungan kampus. Setelah wirausaha dalam bidang makanan, saya beralih untuk jualan kaos, jaket, dan tas agar pengalaman yang saya dapatkan semakin banyak. Melalui dunia wirausaha, saya bisa belajar untuk menguatkan mental. Selain aktivitas tersebut, saya menjadi tentor bimbingan belajar di lembaga kursus yakni Bright Future Education. Banyak pengalaman mengajar yang saya dapatkan di sana sembari mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan.
Kodrat sebagai mahasiswa, tentu tidak saya lupakan untuk menulis karya ilmiah. Saya yakin apa yang saya tulis akan bermanfaat bagi diri saya khususnya dan bagi orang lain. Beberapa karya ilmiah yang sudah saya tulis di antaranya: Optimalisasi Pelestarian Ekowisata Mangrove Berbasis local wisdom di Bedul Banyuwangi, Monopoli Geografi, Usaha Bank Kambing (UBK), dan Bentuk-Bentuk Adaptasi Masyarakat dalam Menghadapi Bencana Banjir di Desa Pelangwot Laren Lamongan. Salah satu karya tulis yang berhasil saya aplikasikan adalah UBK. UBK saya jadikan sebuah proposal usaha dengan tujuan membantu masyarakat yang kurang mampu, namun mempunyai keinginan untuk memelihara kambing. Dari latar belakang tersebut saya mencoba mengaplikasikan karya tulis saya dengan cara menawarkan ke teman-teman dekat untuk bergabung dalam usaha ini. Berkat perjuangan yang keras, sekitar 12 orang bergabung dalam usaha bank kambing.
Dengan demikian, aktivitas di atas saya lakukan demi menjemput kesuksesan. Kesuksesan terbesar menurut saya yakni menjadi pribadi yang semakin berguna dan berpengaruh bagi nusa dan bangsa. Menjadi pribadi yang berguna dan berpengaruh tentu menjadikan kehidupan lebih bermakna. Karena pada hakikatnya hidup ini saling memberi dan tidak lain hanya mencari ridha Allah SWT serta selalu bersyukur dengan cara berbagi pada sesama dan mengamalkan apa yang kita punya, agar kita menjadi insan yang baik dan selalu mendapatkan rahmatNya.





Rabu, 22 Oktober 2014

TEORI TERBENTUKNYA PERMUKAAN BUMI


1.    Teori Pengapungan Benua (Continental Drift theory).
            Tahun 1915 Alfred Wegener dalam bukunya The Origin of Continent’s and Ocean’s mengemukakan teorinya yang terkenal sebagai teori pergeseran benua (Continental Drift Theory) dan diterima di kalangan ahli geologi sampai tahun 1960-an. Menurut Wegener semula benua-benua yang ada sekarang bergabung jadi satu yang diberi nama Benua Pangaa (Pangeae). Permulaan Mesozoikum benua Pangeae ini bergerak secara perlahan-lahan kearah ekuator dan ke arah barat melintasi lautan sehingga terpecah-pecah dan menempati posisi seperti yang sekarang. Pergeseran ke arah ekuator didorong oleh gaya sentrifugal akibat rotasi bumi, sedang pergeseran ke arah barat seperti pergeseran pasang yang dipengaruhi oleh gaya tarik bulan dan rotasi. Teorinya diperkuat dengan bentuk benua-benua, misalnya antara Amerika Selatan dengan Afrika yang bila disambung nampaknya persis bersambung.









Gambar Pergeseran benua-benua.


2.    Teori Dua Benua (Laurasia-Gondwana theory)

http://2.bp.blogspot.com/-Nqfje5I2kHo/UyZfD0bhLRI/AAAAAAAACv8/O5pr6l-RIBE/s1600/laurasia-gondwana.jpg
Sumber Gambar : http://cdn.zmescience.com/wp-content/uploads/2013/09/laurasia-gondwana.jpg

Teori ini menyatakan bahwa pada awalnya bumi terdiri atas dua benua yang sangat besar, yaitu Laurasia di sekitar kutub utara dan Gondwana di sekitar kutub selatan bumi. Kedua benua tersebut kemudian bergerak perlahan ke arah equator bumi, sehingga akhirnya terpecah-pecah menjadi benua benua yang lebih kecil. Laurasia terpecah menjadi Asia, Eropa dan Amerika Utara, sedangkan Gondwana terpecah menjadi Afrika, Australia dan Amerika Selatan. Teori Laurasia-Gondwana kali pertama dikemukakan oleh Edward Zuess pada 1884.

3.    Teori Kontraksi
            Teori ini dikemukakan kali pertama oleh Descrates (1596–1650) menyatakan bahwa bumi semakin lama semakin susut dan mengerut disebabkan terjadinya proses pendinginan sehingga di bagian permukaannya terbentuk relief berupa gunung, lembah, dan dataran. Pendapat ini banyak dikritik, karena tidak mungkin penurunan suhu (pembentuk pegunungan dan lembah) berlangsung sangat drastis. Padahal kenyataannya, didalam bumi masih terdapat unsur pijar dan lapisan bumi yang terus mengalami pergerakan.
http://academic.brooklyn.cuny.edu/geology/grocha/plates/images/contract.jpg
Gambar Permukaan Bumi yang mengerut
4.    Teori Konveksi
Teori Konveksi yang dikemukakan oleh Arthur Holmes dan Harry H. Hess dan dikembangkan lebih lanjut oleh Robert Diesz, dikemukakan bahwa di dalam bumi yang masih dalam keadaan panas dan berpijar terjadi arus konveksi ke arah lapisan kulit bumi yang berada di atasnya. Ketika arus konveksi yang membawa materi berupa lava sampai ke permukaan bumi di mid oceanic ridge (punggung tengah samudra), lava tersebut akan membeku membentuk lapisan kulit bumi yang baru sehingga menggeser dan menggantikan kulit bumi yang lebih tua.
http://2.bp.blogspot.com/-8fCqjfiZjsY/UyZd9Rj13II/AAAAAAAACvw/f6HqlYWJYK0/s1600/arus-konveksi.jpg
http://3.bp.blogspot.com/-nw02FJR3QvI/UkOnZMsDyUI/AAAAAAAAAIM/O0LJ9Mo8Hrc/s320/image1.jpg


5.    Teori Lempeng Tektonik
Teori lempeng tektonik dikemukakan oleh ahli geofisika Inggris, Mc Kenzie dan Robert Parker (1967). Berdasarkan Teori Lempeng Tektonik, kulit bumi terdiri atas beberapa lempeng tektonik yang berada di atas lapisan astenosfer. Lempeng- lempeng tektonik pembentuk kulit bumi selalu bergerak karena adanya pengaruh arus konveksi yang terjadi pada lapisan astenosfer dengan posisi berada di bawah lempeng tektonik kulit bumi.
Berdasarkan arah gerak lempeng  pada batas interaksi lempeng, dikenal ada 3 tipe batas
lempeng: a. Konvergen, yaitu batas dua lempeng yang saling mendekati/bertabrakan;
                b. Divergen, yaitu batas dua lempeng yang saling menjauhi;
                c. Shear atau Transform, yaitu batas dua lempeng yang saling berpapasan.
Gambar Tipe-tipe batas lempeng

1.      Bukti pergerakan lempeng:

Keserupaan garis pantai benua-benua yang dipisahkan Samudra Atlantik
http://2.bp.blogspot.com/-i2rWLCO2I1U/T3MXLl0mX4I/AAAAAAAAAtI/k5_Q6Rv8XdE/s320/amerika.jpg
Keserupaan garis pantai barat Afrika dan timur Amerika Selatan

Bukti Paleoiklim

http://3.bp.blogspot.com/-iQLIYW9oTU8/T3MYzJuqQRI/AAAAAAAAAtg/xoBGp4JfiE0/s320/iklim.jpg
Bukti bahwa beberapa bagian lempeng pernah memiliki iklim yang sama


Bukti Paleontologi

http://1.bp.blogspot.com/-bTgu5Rsl8_0/T3MXM4YUJJI/AAAAAAAAAtQ/-H3dsxCkakE/s320/fosil.jpg
Bukti bahwa beberapa bagian lempeng memiliki fauna yang sama


Daftar Pustaka

Buranda, JP. Tanpa tahun. Geologi umu. Malang: Universitas Negeri Malang Pres

Andrean. 2012.Teori Pergerakan Lempeng. (Online)  http://zonegeologi.blogspot.com/2012/03/teori-pergerakan-lempeng.html diakses 02 Oktober 2014

http://id.wikipedia.org/wiki/Tektonika_lempeng
http://cdn.zmescience.com/wp-content/uploads/2013/09/laurasia-gondwana.jpg


 

Selasa, 14 Oktober 2014

KARAKTERISTIK LAPISAN BUMI DAN PERGERAKAN LEMPENG



Lapisan-lapisan Bumi    
Berbagai dugaan dikemukakan orang mengenai bagian dalam bumi misalnya wujud, temperatur dan tekanan. Ada yang mengatakan bahwa makin dalam temperatur makin tinggi dengan gradien geothermis 20/100 m dekat permukaan bumi, namun makin kedalam gradien geothermis makin kecil. Higgins dan Kennedy (1971) mengatakan bahwa bila inti bumi terutama tersusun dari besi maka temperaturnya berkisar 4.000 – 5.0000 C. Dibawah tekanan lapisan di atasnya besi akan lebur pada temperatur 3.7000C. yaitu pada sekitar perbatasan Mantle dan Inti bumi bagian luar (Allison, 1974). Atas dasar perhitungan temperatur di inti bumi tersebut, muncul pendapat bahwa inti bumi berwujud gas karena pada temperatur 4.000 – 5.0000C materi padat akan lebur kemudian berubah menjadi gas. Sebagian ahli lain tidak sependapat dengan alasan bahwa makin kedalam tekanan juga semakin tinggi karena beban lapisan di atasnya. Oleh karena itu dibawah tekanan yang begitu besar (sekitar 3 juta atmosfer), inti bumi akan berwujud padat. Muncul pula pendapat lain yang menggabungkan pandangan di atas, mengatakan bahwa inti bumi berwujud kental karena sekalipun temperatur sangat tinggi namun tekanan yang begitu tinggi akan menghalangi perubahan ke gas.
Dalam perkembangan selanjutnya, atas bantuan penelitian seismik yang makin maju para ahli mengemukakan keterangan-keterangan bagian dalam bumi yang lebih memuaskan dan menyusun gambaran struktur bumi sebagai berikut: bumi dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu Kerak bumi (Crust), Selimut bumi (Mantle) dan Inti bumi (Core) (Stokes, 1978).
1. Kerak bumi (Crust). Lapisan ini menempati bagian paling luar dengan tebal berkisar 6 – 50 km. Tebal lapisan ini tidak sama di semua tempat, di benua sekitar 20 – 50 km sedang di dasar laut 0 -5 km atau bersama air laut di atasnya sekitar 10 – 12 km. Tersusun dari materi-materi padat terutama yang kaya silisium dan aluminium. Ada yang membedakan atas 2 lapisan yaitu: a). Lapisan granitis, lapisan yang kebanyakan terdiri dari batuan granit. Kecepatan gelombang longitudinal di lapisan ini sekitar 6,5 km/detik. Tetapi lapisan ini tidak dijumpai di dasar laut.
b). Lapisan basaltis, lapisan yang letaknya di bawah lapisan granitis dan kebanyakan tersusun dari materi basalt. Kecepatan gelombang longitudinal di lapisan ini sekitar 6,5 – 8 km/detik.
2. Selimut bumi (Mantle). Lapisan ini terletak di bawah kerak bumi dan pada umumnya dibedakan atas 3 lapisan:
a). Litosfer, letaknya paling atas dari Selimut bumi, terdiri dari materi berwujud padat dan kaya silisium – aluminium, tebalnya sekitar 50 – 100 km. Bersama-sama dengan kerak bumi sering pula disebut lempeng litosfer yang mengapung di atas lapisan yang agak kental yaitu astenosfer. Batas bawahnya berupa lapisan yang agak lain sifatnya dimana kecepatan gelombang longitudinal lebih lambat dan disebut Low Velocity Layer. Biasanya digabungkan dengan lapisan agak kental di bawahnya yaitu astenosfer.
b). Astenosfer, lapisan di bawah litosfer yang wujudnya agak kental, kaya dengan silisium aluminium dan magnesium. Diduga batuan penyusun lapisan ini lebur sekitar 1 – 10%. Kemungkinan titik lebur silikat yang menyusun lapisan ini turun karena adanya air yang masuk ke lapisan ini sehingga walaupun temperatur di lapisan ini belum cukup tinggi sebagian material silikat mulai lebur. Tebal lapisan ini sekitar 130-160 km, dan dengan lapisan transisi low velocity layer bersama-sama tebalnya sekitar 100 – 400 km.
c). Mesosfer, lapisan yang lebih tebal dan lebih berat, kaya dengan silisium dan magnesium. Tebalnya sekitar 2.400 – 2750 km, kecepatan gelombang longitudinal naik dari sekitar 8 km/detik sampai 13,5 km / detik. Pada perbatasan ke lapisan lebih dalam (inti bumi) terdapat lapisan transisi di mana kecepatan gelombang longitudinal menurun sangat tajam dari 13,5 km/detik ke 8km/detik. Lapisan ini dikenal dengan nama Gutenberg – Wiechert Discontinuety Layer yang biasanya dijumpai pada kedalaman 2698 km.

3. Inti Bumi (Core),  lapisan ini menempati bagian paling dalam dan dapat dibagi 2 bagian:
 a). Inti Bagian luar (Outer Core), diduga berwujud cair sebab lapisan ini tidak dilalui gelombang transversal. Tebal lapisan ini sekitar 2160 km, kemungkinan tersusun dari materi yang kaya silisium, besi, dan magnesium.
b). Inti Bagian Dalam (Inner core) pada kedalaman sekitar 5145 km terjadi perubahan kecepatan gelombang longitudinal dari rendah ke tinggi, sebagai petunjuk batas antara inti bagian luar dan inti bagian dalam. Tebal lapisan ini sekitar 1320 km, diduga berwujud padat, tersusun dari materi yang kaya nikel dan besi dengan densitas lebih besar.   



Gambar 2. 11. Lapisan-Lapisan Bumi

Lempeng litosfer adalah lapisan terluar bumi yang terdiri dari kerak bumi dan litosfer, mengapung di atas lapisan yang agak lunak yaitu astenosfer. Tebalnya berkisar 100 – 250 km (Monroe, Wicander, 2001). Lempeng ini sangat mobil karena terpengaruh oleh arus konveksi yang terjadi di lapisan astenosfer. Akibat arus konveksi di astenosfer maka lempeng litosfer di atasnya terdorong sehingga akhirnya pecah menjadi beberapa bagian yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Amerika Utara, Lempeng Amerika Selatan, Lempeng Hindia dan Australia, Lempeng Afrika, Lempeng Eurasia dan Lempeng Antarktika. Masing-masing lempeng bergerak ke arah tertentu dengan kecepatan berkisar 1 – 13 cm/tahun. Perhatikan gambar 4. 3 yang memperlihatkan peta tektonik lempeng.


Gambar 4. 3. Peta Tektonik Lempeng

Berdasarkan arah gerak lempeng  pada batas interaksi lempeng, dikenal ada 3 tipe batas
lempeng: a. Konvergen, yaitu batas dua lempeng yang saling mendekati/bertabrakan;
                b. Divergen, yaitu batas dua lempeng yang saling menjauhi;
                c. Shear atau Transform, yaitu batas dua lempeng yang saling berpapasan.
Contoh batas lempeng dapat dilihat di gambar 4. 4.

Gambar 4. 4. Tipe-tipe batas lempeng
Ad.a. Batas Lempeng Konvergen.  Pada batas lempeng konvergen, ada dua lempeng yang bergerak kearah satu sama lain. Karakteristik perbatasan sebagian tergantung pada tipe lempeng yang bertabrakan.
1)  Jika lempeng dasar laut bertabrakan dengan lempeng dasar laut, salah satunya akan mengalami subduksi, membenam dibawah yang lain. Contohnya adalah lempeng Australia bertabrakan dengan lempeng Asia, dimana lempeng Australia membenam di sebelah barat Sumatera, selatan Jawa – Nusa Tenggara dan Maluku Selatan; lempeng Pasifik bertabrakan dengan lempeng Asia, dimana lempeng Pasifik mengalami subduksi di bawah Irian – Filipina – Jepang. Sepanjang zone subduksi merupakan pusat-pusat gempa, dari gempa dangkal sampai gempa dalam dan biasanya dikenal sebagai zone of Benioff.
Lempeng yang turun menghasilkan palung laut dan pada kedalaman 50 – 100 km sebagian mulai mengalami peleburan menghasilkan magma andesitik. Magma andesit yang terbentuk menyusup keatas melalui retakan-retakan akibat tabrakan antar lempeng, membentuk busur vulkanik berupa deretan pulau-pulau vulkanis sejajar dengan palung. Perhatikan gambar 4. 5.


Gambar 4. 5. (a). Lempeng dasar laut bertabrakan dengan lempeng
dasar laut (b). Busur pulau-pulau vulkanik yang terbentuk
(Sumber: Monroe, James S, Wicander, Reed, 2001)

2)   Jika lempeng dasar laut bertabrakan dengan lempeng benua, maka lempeng dasar laut membenam dibawah lempeng benua karena batuan dasar laut lebih berat. Kenampakan yang dihasilkan sama saja dengan tabrakan dasar laut dengan dasar laut, hanya letak palung dekat tepi benua dan busur vulkanik tidak berupa pulau-pulau vulkanik melainkan pegunungan tepi benua. Sepanjang zone subduksi merupakan pusat-pusat gempa dari gempa dangkal sampai gempa dalam. Subduksi lempeng Nazca dibawah lempeng Amerika Selatan adalah contoh tipe batas lempeng ini. Palung Peru-Chili menandai tempat subduksi dan Pegunungan Andes mewakili busur vulkanik. Lihat gambar 4. 6


Gambar 4. 6. Lempeng Nasca menunjam di bawah 
Lempeng Amerika Selatan Sumber: Skinner, B.J., dkk, 2004
                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           
3)      Jika lempeng benua bertabrakan dengan lempeng benua, kedua benua saling bertumpuk satu sama lain. Karena batuan kedua benua sama dan keduanya lebih ringan dari batuan di bagian bawah, maka tidak ada yang menunjam dibawah yang lain. Salah satu benua dapat menyelinap dalam jarak pendek dibawah yang lain, tetapi tidak bergerak kebawah sebagai  zone subduksi. Kedua benua menyatu sepanjang suture zone (zone jahitan) yang menandai awal persinggungan kedua benua. Kerak dipertebal lebih lanjut oleh dorongan salah satu benua di bawah yang lain. Hasilnya adalah rangkaian pegunungan di pedalaman benua baru yang lebih besar, hasil penggabungan dua benua. Seluruh daerah tumbukan ditandai oleh pusat-pusat gempa dangkal dalam daerah yang luas sepanjang sejumlah patahan. Pegunungan Himalaya di Asia Tengah terbentuk dengan cara ini, di mana Lempeng India bergerak ke utara bertabrakan dengan Lempeng Asia. Lihat gambar 4. 7.



Gambar 4. 7. Lempeng India tabrakan dengan lempeng Asia.
Sumber: Skinner, B.J., dkk, 2004.

Ad. b. Batas Lempeng Divergen
Batas lempeng divergen adalah batas antar lempeng yang bergerak saling menjauhi. Tipe batas lempeng ini umumnya dijumpai di pegunungan tengah samudera (Mid-oceanic Ridge) seperti Mid-Atlantic Ridge, East Pacific Rise, Atlantic-Indian Ridge, Pacific-Antarctic Ridge.
Arus konveksi di Astenosfer naik di tempat ini kemudian bergerak ke arah berlawanan, menyebabkan lempeng litosfer di atasnya pecah dan bergeser ke arah yang berlawanan. Celah yang terbentuk antara kedua lempeng tersebut terisi dengan magma dari lapisan astenosfer membentuk pegunungan tengah samudera.  Lihat gambar 4. 8.
Gambar 4. 8. Pegunungan di  Tengah Samudera Atlantik  (Mid –Atlantic Ridge)

Ad. c. Batas Lempeng Shear atau Transform

Batas lempeng shear adalah batas antar lempeng yang gerakannya horizontal berlawanan arah sepanjang batas keduanya, seperti mobil yang berpapasan di jalan. Contoh batas lempeng ini adalah patahan Anatolia Utara di Turki yang arahnya Barat –Timur di mana sisi utara patahan bergerak ke timur dan sisi selatannya bergerak ke barat, patahan San Andreas di Amerika Utara di mana sisi timur bergerak ke selatan sepanjang patahan, dan sisi barat bergerak ke arah utara. Daerah di batas lempeng semacam ini sering dilanda gempa dangkal karena gesekan batuan antara kedua lempeng. Lihat Gambar 

Gambar 4.9. Patahan San Andreas di Amerika Utara.
Sumber: Monroe, Wicander, 2001.

Penyebab pergeseran lempeng disebabkan oleh arus mkonveksi di dalam selimut bumi, namun ada beberapa mekanisme/cara yang dikemukakan oleh berbagai ahli geologi. Misalnya ada yang mengemukakan bahwa arus konveksi terjadi dalam selimut bagian atas saja yaitu di lapisan Astenosfer, namun ahli lain beranggapan arus konveksi terjadi di seluruh selimut bumi. Perhatikan gambar 4.10. di bawah ini.

Gambar 4. 10. Arus konveksi di lapisan Astenosfer (kiri) dan
arus konveksi di seluruh selimut bumi (kanan).
Adalagi yang berpendapat tempat naiknya batuan panas dari bawah merupakan daerah sempit saja seperti cerobong asap, dan setelah sampai di permukaan tersebar ke segala arah. Lihat Gambar 4. 11. Pendapat ini dikenal sebagai Mantle Plume oleh W. Jason Morgan seorang ahli geologi dari Universitas Princeton.
Tempat di permukaan bumi itu menjadi daerah vulkanis aktif. Menurut pandangan Morgan lempeng bergerak karena beberapa plume yang tidak luas berupa arus konveksi sepanjang seluruh pegunungan. Plume hipotetis ini seakan seperti pipa dari dasar selimut bumi. Aliran radial materi selimut bumi dari dalam ke permukaan akan memecahkan litosfer dan menggerakkan lempeng. Mantle plume yang naik di benua misalnya, akan menyebabkan permukaan benua menggembung ke atas menyebabkan aktivitas vulkanisme.


Gambar 4. 11.  Mantle Plume seperti terlihat dari samping (atas) dan penyebaran secara radial di permukaan bumi seperti terlihat dari atas (bawah).


Penggembungan ini menghasilkan tiga retakan (gambar 4. 12). Aliran dari dalam berlangsung terus menyebabkan kerak bumi terpecah sepanjang dua dari tiga retakan dan retakan ketiga menjadi tidak aktif. Dalam model ini kedua retakan yang aktif akan menjadi pinggiran benua sebagaimana lautan terbentuk antara benua yang terbelah itu. Retakan ketiga menjadi aulacogen, suatu retakan yang tidak aktif yang kemudian terisi dengan sedimen.

Gambar 4. 13.
A Penggembungan permukaan bumi tempat   
    Mantle plume naik.
B. Akibat aliran radial maka permukaan bumi
     retak di tiga tempat.
C. Dua retakan menjadi aktif di mana lempeng  
     bergerak ke arah berlawanan membentuk 
     lautan diantaranya, sedang retakan yang 
     ketiga menjadi tidak aktif dan terisi dengan  
     sedimen (aulacogen)


     

Sebagai contoh dari retakan semacam ini adalah Laut merah (gambar 4. 14).

Gambar 4.14. Laut Merah dan Teluk Aden merupakan dua retakan aktif sebagaimana semenanjung Arab bergeser dari Afrika, sedang retakan yang tidak aktif atau aulacogen ialah patahan Afrika Timur

Tempat di mana mantle plume mungkin naik sekarang di benua adalah di Taman Nasional Yellowstone di barat laut Wyoming. Daerah ini agak tinggi   dan vulkanis, ada arus panas dan kegiatan mata air panas dan geyser, semuanya mungkin disebabkan oleh plume ini.
Beberapa plume naik di bawah lautan misalnya di kepulauan Hawaii. Akan tetapi agak lain dengan yang di benua, plume bertindak seperti pusat erupsi (hot spot) di bawah lempeng yang bergerak. Sebagaimana lempeng bergerak di atas plume terbentuklah sederetan gunung  di mana hanya salah satu gunung tersebut yang aktif yaitu gunung yang persis di atas mantle plume sedang yang lainnya sudah tidak aktif (gambar 4. 15). Perhatikan pula gambar 4. 16 yang menunjukkan peta Kepulauan Hawaii di mana di ujung tenggara saja yang aktif dan makin ke barat laut gunung-gunungnya tidak aktif dan makin tua umur batuannya.

 
Gambar 4. 15. Perhatikan gunung yang aktif hanya yang terletak di atas pusat
erupsi (hot spot) dan makin ke kiri makin tua umurnya.

Kebanyakan ahli geologi menerima konsep tektonik lempeng karena konsep ini dapat menjelaskan banyak kenampakan-kenampakan di permukaan bumi, antara lain:
·   Distribusi gempabumi yang sesuai dengan konsep tektonik lempeng, di mana gempa dangkal umumnya terletak di bawah normal fault yang disebabkan oleh tensional stress yang berasosiasi dengan perbatasan lempeng divergen dan di strike slip fault pada shear boundary di continent convergence. Di sisi lain gempa dangkal, sedang dan dalam dijumpai pada zone of Benioff yang terletak pada patahan terbalik yang terjadi bila salah satu lempeng menunjam di bawah yang lainnya.

Gambar 4. 16. Peta Kepulauan Hawaii yang bergeser ke barat laut dan hanya dua gunung aktif di sebelah tenggara (tempat yang persis di atas pusat erupsi) dan
gunung-gunung makin ke baratlaut makin tua umurnya.

·   Distribusi dan komposisi vulkan-vulkan di dunia: vulkan-vulkan basaltis terjadi di divergent boundary, sedang vulkan-vulkan andesitis terjadi di convergent boundary.
·   Pegunungan muda dunia yang berasosiasi dengan intrusi magma, metamorfosis, lipatan dan patahan yang disebabkan oleh kompressi horisontal terjadi di converging plate boundaries.
·   Relief dasar laut juga dapat dijelaskan dengan konsep tektonik lempeng: Mid Oceanic Ridge dijumpai pada divergent boundaries, palung laut dijumpai di zone subduksi.
·   Tektonik lempeng juga berkaitan dengan pembentukan batuan metamorfosis seperti terlihat pada gambar 4. 17.
Dengan demikian  konsep tektonik lempeng dapat menjawab lebih banyak kenampakan kenampakan yang ada di permukaan bumi daripada hipotesis atau teori-teori lain.


Gambar 4. 17.  Hubungan antara tektonik lempeng dengan metamorfosis

            Pada gambar 4. 18 di bawah ini kita dapat melihat sebaran  pegunungan dan tipe batas lempeng.

Gambar 4. 18. Sebaran pegunungan bertipe andesit dan basaltik




===JPB===


Daftar Pustaka

Buranda, J.P. 2009. Geologi Umum. Malang. Universitas Negeri Malang. UM Pres